Lima Fotografer Populer di Indonesia
![]() |
| Foto : Google.com |
JAKARTA-KFM, Fotografi menjadi sesuatu yang diminati oleh banyak orang saat ini. Perkembangan fotografi di Indonesia tak lepas dari para fotografer profesional yang sudah banyak malang melintang di dunia tersebut. Kali ini , kita akan membahas lima fotografer profesional di Indonesia versi KFM.
![]() |
| Foto ©ShanShine |
Pada tahun 1980 Darwis memulai memotret untuk komersil dalam pembuatan brosur Hotel Borobudur dengan bayaran kala itu 50.000 rupiah, lalu di tahun 1981 mulai mengembangkan karir dengan mengadakan pameran foto-grafi bersama para fotografer amatir lain dengan tema memukau lansekap dan humanity interest yang dipilihnya kala itu.
Sejak tahun 1983, Darwis memperdalam ilmu fotografi dengan mengikuti teknik pencahayaan dan teknik kamera di Jerman dan Swiss. Pada tahun 1990, beliau diberi kepercayaan untuk berpar-tisipasi dalam media dan ajang internasional, seperti majalah tahunan Hassel-blad, acara Photo Kina International, Competition di Köln, Jerman.
Hingga saat ini Babeh sering membuat seminar, dan workshop tentang fotografi. Dia juga telah mendirikan lembaga pendidikan fotografi di Jakarta Selatan.
Adek Berry
![]() |
| Foto ©CNN Indonesia |
Dilansir dari CNNIndonesia, Adek berpendapat saat ini banyak perempuan yang tertarik dan serius menggelutinya. Adek juga menyebut sebagai fotografer perempuan dia tidak pernah mendapatkan perlakuan khusus. Ia merasakan, yang dinilai dari dirinya selama ini adalah profesionalisme dalam bekerja.
Perempuan kelahiran Curup, 14 September 1971 mulai serius belajar fotografi di Jember. Semua berawal dari kamera Yashica FX 3 pemberian kakaknya. Mulai dari belajar otodidak, Adek akhirnya ikut ke dalam sebuah klub fotografi dan sering mengikuti sharing tentang dunia itu.
Erik Prasetya
![]() |
| Foto ©JIPFEST |
Erik memulai sejak beliau berumur 10 tahun, saat itu ibunya memberi dia kamera medium format Yasica Mat. Sempat menjadi wartawan tulis di salah satu majalah, Erick merasa tidak sreg. Kerap kali ia membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengerjakan satu atau dua artikel. Sadar akan hal itu, diapun kembali kedunia fotografi dan merasakan sensai menekan shutter yang sudah ia rasakan sejak umur 10 tahun.
Pada tahun 2000, Erick ingin membuat buku foto dari hasil karya - karyanya. Ya, menerbikan buku bukan hal yang mudah untuk seorang Erick Prasetya. Buku pertamanya baru terbit pada tahun 2010 cerita Erik menyebut buku Estetika Banal yang kemudian banyak dijadikan pondasi dan pegangan streetphotography di Indonesia.
Oscar Motuloh
![]() |
| Foto ©TheDaily |
Perjalanan karirnya dimulai pada tahun 1988 yang kala itu ia menjadi reporter di Kantor Berita Antara. Dua tahun kemudian, ia diangkat untuk menempati posisi divisi pemberitaan visual sebagai pewarta foto. Ia mempelajari fotografi bukan melalui kursus atau pendidikan khusus, namun otodidak.
Hingga kini, Oscar selain aktif menjadi pewarta foto, ia kini memimpin Kantor Berita Foto Antara dan juga menjadi Kepala Museum dan Galeri Foto Jurnalistik Antara. Ia juga ikut mendirikan Pewarta Foto Indonesia, organisasi yang menghimpun seluruh pewarta fto di Indonesia.
Arbain Rambey
![]() |
| Foto ©Tribun |
Dilansir dari Natgeo, Ia belajar banyak mengenai ilmu fotografi jurnalistik pada Kartono Ryadi, Redaktur Foto Harian Kompas pada saat itu. Kartono Ryadi , yang memiliki sebutan atau inisial KR, merupakan jurnalis foto kawakan dengan berbagai bidang liputan: olahraga, human interest, lingkungan dan budaya.
Melihat semangat kuat dari Arbain, akhirnya KR memberi Arbain kesempatan untuk mempraktekkan ilmu fotografi langsung di lapangan. Tak tanggung-tanggung, Ia langsung ditugaskan untuk memotret Sea Games di Manila tahun 1991.
Saat ini, selain menjabat sebagai Redaktur Foto di Harian Kompas, Arbain masih aktif mengajar di Universitas Indonesia dan Universitas Multimedia Nusantara. Ia juga kerap diundang mengisi lokakarya bertema fotografi.






Tidak ada komentar